DSLR beresolusi 18 MP dengan fitur HD movie. Bila anda sempat menganggap kalau 7D itu adalah nama DSLR full frame, rupanya anda keliru. Canon (entah mengapa) justru memutuskan untuk memberi nama penerus EOS 50D ini dengan nama satu digit, bukannya melanjutkan tradisi dua digit seperti sebelumnya. Tidak seperti perubahan dari 40D ke 50D yang hanya berubah secara internal, kini perubahan dari 50D ke 7D bisa dibilang adalah perubahan luar dalam, yaitu penyempurnaan dalam hal desain bodi sekaligus spesifikasi teknis kamera.

Canon EOS 7D
Canon EOS 7D

Yang unik, perubahan paling terasa dalam desain bodi adalah perubahan tata letak tombol yang tadinya di bawah LCD, kini bergeser ke arah kiri LCD. Akhirnya Canon pun harus mengikuti desain DSLR pada umumnya yang lebih rasional, karena memang sulit mengoperasikan kamera yang punya deretan tombol di bawah LCD. Meski demikian, anda yang menantikan hadirnya LCD lipat dari Canon masih harus bersabar, karena Canon tampaknya masih menahan diri untuk ikut terjun di sistem LCD lipat yang digagas oleh Olympus, Sony dan Nikon.

Berikut spesifikasi dari Canon EOS 7D :

  • sensor APS-C 18 MP
  • Dual Digic IV processor
  • 19 AF points, semuanya cross-type sensor (wow)
  • ISO maks 6400 (bisa dinaikkan hingga 12800)
  • Virtual Horizon
  • 8 fps continuous shooting
  • 100% viewfinder coverage
  • live view
  • HD Movie
  • LCD 3 inci dengan resolusi 920 ribu
  • anti debu
  • teruji hingga 150ribu kali jepret
  • Harga sekitar 17 juta
EOS 7D tampak belakang
EOS 7D tampak belakang

Oke, kita kupas sedikit mengenai produk terelit Canon di kelas crop-sensor ini. Pertama, dalam hal resolusi sensor, Canon jelas semakin ambisius untuk memenangkan persaingan dengan Nikon D300s dengan menaikkan resolusi dari 15 MP ke 18 MP. Dengan ukuran sensor yang sama, maka prediksi kami EOS 7D ini akan lebih menderita dalam hal noise (mungkin Digic IV bisa mengurangi noise itu tapi tentu tidak terlalu efektif). Kedua, kenaikan jumlah titik AF perlu diacungi jempol karena inilah penyebab EOS 50D kalah dalam hal auto fokus dibanding dengan Nikon D300. kami menyukai viewfindernya yang besar, kinerja burst 8 fps yang cepat dan fitur HD movie yang jadi tren di tahun ini. Kami masih penasaran akan kemampuan live-view dan kecepatan fokus dalam mode tersebut, namun mengingat prinsip kerjanya masih sama, maka asumsikan saja kinerja live-view 7D ini masih sama seperti 50D. Sebagaimana layaknya DSLR semi profesional lainnya, 7D ini pun punya shutter unit yang mampu dipakai hingga 150 ribu kali jepret tanpa rusak, sehingga menghindarkan para pengguna untuk sering mampir ke service center guna mengganti unit shutter.

Sebagai tambahan, Canon juga meluncurkan dua lensa zoom kelas consumer baru yaitu :

  • EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM (8 jutaan)
  • EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS (5 jutaan)

EF-S-15-85mm

EF-S-15-85mm

Lensa EF-S 15-85mm adalah penyempurna dari lensa sebelumnya yaitu EF-S 17-85mm f/4-5.6 IS USM. Perbedaan utamanya adalah lensa baru ini lebih wide (15mm atau ekuivalen 24mm) dan bukaan maksimum lebih besar (f/3.5 dibanding f/4) sehingga layak untuk dijadikan lensa utama sehari-hari. Ditambah dengan IS dan motor USM, lensa elit yang tidak cocok untuk DSLR full frame dan bukan tergolong lensa L series ini masih tergolong sangat baik dan kualitasnya mungkin setara dengan Nikon AF-S 16-85mm VR.

EF-S-18-135mm

EF-S-18-135mm

Sedangkan lensa EF-S 18-135mm meski tanpa motor USM namun rasanya sudah cukup lengkap karena ada fitur IS. Dengan hadirnya lensa EF-S 18-135mm, pemakai DSLR Canon akhirnya bisa menjajal lensa zoom ekonomis yang punya rentang fokal  mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Sebelumnya, tidak banyak pilihan lensa Canon dengan ciri seperti tersebut diatas sehingga pemakai DSLR Canon terpaksa harus mencari merk lensa alternatif. Bandingkan dengan Nikon yang punya bermacam lensa zoom ekonomis yang bermula dari 18mm seperti 18-70mm, 18-105mm dan 18-135mm.

(kamera-gue.web.id)