Sebetulnya sudah banyak artikel yang saya buat seputar kamera DSLR murah meriah yang cocok untuk pemula. Disini saya hanya menegaskan mengenai kompromi (jalan tengah) yang sebaiknya diambil antara harga jual dengan kinerja / performa yang dimiliki sebuah kamera DSLR. Hal ini saya rasa penting, karena meski semua kamera DSLR pada dasarnya sama baiknya, namun kebutuhan fotografi tiap orang berbeda (demikian juga dengan budgetnya). Artikel kali ini tidak dimaksudkan untuk mencari kamera DSLR murah yang paling baik, namun mengajak pembaca untuk bijak mencari kamera yang spesifikasinya sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak ada penyesalan setelah membeli nantinya.

Di awal kesempatan ini saya sajikan terlebih dahulu daftar 5 kamera DSLR termurah seharga 5 jutaan yang semoga masih ready stock di pasaran (urut dari harga tertinggi hingga terendah) :

  1. Canon EOS 400D + lensa 18-55mm (Rp. 5,5 jutaan)
  2. Olympus E410 + lensa 14-42mm (Rp. 5,3 jutaan)
  3. Sony A200 + lensa 18-70mm (Rp. 4,8 jutaan)
  4. Pentax K100D Super + lensa 18-55mm (Rp. 4,7 jutaan)
  5. Nikon D40 + lensa 18-55mm (Rp. 4,5 jutaan)

Perhatikan daftar diatas, meski kelima kamera DSLR murah ini sama baiknya, peringkat teratas (yang harganya paling tinggi) tidak lantas jadi paling unggul dalam hal fitur dan performa dibanding peringkat dibawahnya. Tiap kamera punya fitur dan spesifikasi yang berbeda, adalah penting untuk mengenal dan mengukur kebutuhan fotografi kita sebelum memutuskan untuk memilih. Prinsipnya, sebagai pemula, bisa jadi seseorang bisa memakai kamera DSLR apapun. Namun saat skillnya meningkat, jangan sampai kamera DSLR yang dimilikinya tidak lagi mampu mengakomodasi keahliannya, sehingga ujung-ujungnya dia harus ganti kamera DSLR lain.

Semua kamera DSLR, murah ataupun mahal, punya kesamaan spesifikasi dasar yang sama yang perlu dicermati. Khusus untuk mengupas lima kamera murah ini, mari kita simak beberapa faktor mendasar yang mungkin bisa jadi pertimbangan sebelum memilih.

RESOLUSI

 

CCD 10 MP
CCD 10 MP

 

Inilah biang dari maraknya persaingan merk dan harga kamera di pasaran. Dengan mengusung resolusi yang lebih tinggi, produsen dan penjual merasa mendapat pembenaran untuk menjual kameranya dengan harga tinggi. Benar kalau resolusi ini bermanfaat untuk kebutuhan cetak besar maupun cropping, dan akan lebih baik punya kamera resolusi tinggi dibanding resolusi rendah. Namun sebenarnya dengan 6 mega piksel saja sebuah kamera DSLR sudah amat memadai untuk kebutuhan sehari-hari. Bila anda tidak keberatan dengan 6 MP, Nikon D40 dan Pentax K100D sudah bisa jadi nominasi anda. Tapi bila anda perlu resolusi yang lebih tinggi (10 MP), pertimbangakan ketiga pilihan lainnya.

LENSA KIT

 

Sony 18-70mm
Sony 18-70mm

 

Kamera DSLR untuk pemula identik dengan adanya paket lensa kit dalam penjualan. Hal ini karena umumnya pemula belum mengerti lensa mana yang cocok untuk mereka, dan lensa kit ditujukan sebagai lensa pertama sebagai awal terjun para pemula ke dunia fotografi. Dengan lensa kit bisa didapat hasil foto yang baik, tapi foto yang dibuat oleh lensa kit tidak akan mendapat efek / kesan profesional layaknya memakai lensa khusus seperti lensa wide, tele, fix/prime, atau lensa macro. Bila dana terbatas, anggaplah lensa kit ini akan menemani kamera anda untuk beberapa tahun kedepan, sehingga akan lebih ‘aman’ bila kita memilih DSLR yang lensa kitnya relatif bagus. Satu hal lagi, dari lima kamera diatas, range lensa yang ditawarkan umumnya seragam yaitu 18-55mm yang setara dengan 28-80mm (Olympus memberi lensa kit 14-42mm, namun karena crop factor format 4/3 adalah 2x jadi jangkauan lensanya juga setara dengan 28-80mm). Perhatikan kalau lensa kit Sony punya panjang fokal lensa lebih panjang yaitu dengan 18-70mm (setara dengan 28-105mm).

AUTO FOKUS

 

11 titik AF
11 titik AF

 

Satu hal yang memanjakan pemakai DSLR adalah kemampuan auto fokusnya yang tepat, cepat dan akurat. Kamera DSLR mampu mendeteksi fokus dan mengikuti pergerakan objek, karena seolah-olah kamera mampu melihat benda layaknya mata kita. Rahasia dibalik kemampuan ini adalah adanya modul AF yang bekerja berdasar phase-detect, dan tiap kamera punya modul tersendiri yang memiliki jumlah titik fokus yang berbeda. Idealnya, semakin banyak titik fokus akan makin baik karena kemungkinan kamera salah dalam menguci fokus akan dapat dikurangi. Minimal kamera perlu tiga buah titik fokus, yaitu di tengah (utama), kiri dan kanan. Namun tiga titik fokus akan tidak efektif bila dipakai saat memotret vertikal. Kenali dulu kebutuhan fotografi anda, bila anda tidak masalah dengan hanya tiga titik fokus, maka tentu memilih Nikon D40 atau Olympus E410 tidak jadi masalah. Tapi bila perlu 9 titik AF, coba pertimbangkan EOS 400D atau Sony A200. Bila ingin titik AF hingga 11 titik, maka pilihannya hanya Pentax K100D.

KINERJA / PERFORMA UMUM

Faktor satu ini cukup banyak aspek yang terlibat, seperti kemampuan continuous shooting, shutter speed maksimal dan minimal, range ISO, exposure compensation dan metering. Kita coba bedah satu persatu :

  • Continuous shooting : Tiga kamera tercepat dengan 3 fps adalah EOS 400D, Olympus E410 dan Sony A200. Bila anda pecinta sport, ketiga kandidat ini layak dipilih. Dengan speed 2,8 fps, anda bisa memilih Pentax K100D, dan Nikon D40 di tempat terakhir dengan hanya 2,5 fps. Tapi sejujurnya, speed dibawah 5 fps masih tergolong lambat, sehingga dalam urusan ini saya katakan kelima kamera ini hampir draw.
  • Max/min shutter speed : Kesemuanya punya kecepatan shutter maksimal di 1/4000 detik, tidak ada yang mampu mencapai 1/8000 detik (layaknya kamera kelas menengah). Untuk speed paling lambat, umumnya sama di 30 detik kecuali Olympus E410 yang mampu mencapai 60 detik.
  • Range ISO : Umumnya bermula dari ISO 100/200 dan berakhir di ISO 1600. ISO ekstra tinggi (ISO 3200) bisa dicapai oleh Nikon D40, Sony A200 dan Pentax K100D, meski hasil fotonya akan dipenuhi noise.
  • Exposure compensation : Umumnya dalam step 1/3 EV (kecuali EOS 400D yang menawarkan step 1/3 EV dan 1/2 EV). Range terlebar dimiliki oleh Nikon D40 dan Olympus E410 dengan -5 hingga +5.
  • Metering : Faktor satu ini cukup sering terlewatkan saat seseorang akan memilih kamera, padahal ada satu fitur penting yang sebaiknya tidak disepelekan yaitu spot metering. Tercatat hanya EOS 400D yang tidak memiliki spot metering, bila anda merasa fitur ini tidak perlu, maka tentu EOS 400D tidak masalah untuk dipilih. Olympus E410 bahkan lebih baik dengan menyediakan spot metering berdasar shadow atau highlight priority.
  • Bracketing : Suatu fitur untuk mengambil beberapa foto sekaligus namun dengan eksposure yang berbeda. Berguna bila kita tidak yakin akan eksposure yang dipilih, sehingga dari beberapa foto yang diambil bisa dipilih mana yang paling tepat. Hasil foto yang diambil melalui bracketing juga dapat digabung memakai software (Adobe Photoshop CS) sehingga didapat sebuah foto HDR (High Dynamic Range). Perhatikan kalau Nikon D40 tidak memiliki fitur bracketing ini.

FLASH / LAMPU KILAT

 

Built-in flash

 

Tentu saja, untuk hasil profesional anda memerlukan lampu kilat eksternal. Tapi yang saya maksudkan, perhatikan kembali built-in flash dari kelima kamera ini. Ada kamera yang flashnya berfungsi ganda sebagai AF assist, ada yang mampu menjadi commander wireless flash (Sony A200), dan ada yang kemampuan sync nya hingga 1/500 detik (Nikon D40). Bila tersedia pilihan rear-sync flash maka akan lebih baik lagi.

FITUR LAIN

Fitur berikut ini mungkin terlewatkan padahal tidak kalah pentingnya :

  • Stabilizer. Bila ingin memakai kamera DSLR dengan stabilizer pada bodi (berbasis sensor-shift), maka pilihannya adalah Pentax K100D dan Sony A200. Bila ingin stabilizer pada lensa (berbasis lens-shift), maka pilihannya adalah EOS 400D dan Nikon D40 (namun bukan dengan lensa kit, melainkan harus membeli lensa lain yang berkode IS/VR). Yang konyol menurut saya adalah Olympus E410, dimana kamera ini tidak memiliki stabilizer pada bodi (layaknya Olympus E510), namun lensa Olympus sendiri tidak ada yang memakai stabilizer. Artinya, pemakai E410 yang memakai lensa Olympus tidak akan pernah merasakan yang namanya fitur stabilizer. Sebagai gantinya, bawalah selalu tripod.
  • Live-view. Berguna untuk menampilkan gambar pada layar LCD secara langsung dari lensa. Tercatat hanya Olympus E410 yang memiliki fitur ini. Nikon D40 hingga D60 tidak ada live-view, Sony hanya memberi live-view di seri A300, Canon memiliki live-view pada EOS 450D, sementara Pentax K100D sampai K200D tidak ada live-view. Bila anda mencari DSLR termurah yang sudah dilengkapi live-view jawabannya jelas, Olympus E410.
  • White balance. Sangat penting untuk ketepatan reproduksi warna dibawah sumber cahaya apapun. Umumnya kelima kamera ini punya fitur WB yang seragam, dengan 6-8 pilihan preset plus manual. Manual WB berguna untuk mengkompensasi ke arah warm (merah) atau cool (biru).
  • Mirror lock-up. Dikombinasikan dengan self-timer, fitur ini berguna untuk mencegah getaran pada kamera akibat gerakan cermin. Dengan fitur ini, cermin akan terangkat sebelum foto diambil, sehingga resiko getaran (meski kecil) yang terjadi bisa dihilangkan. Tercatat hanya EOS 400D saja yang memiliki fitur ini. Bagi pecinta foto landscape, bisa jadi fitur ini akan anda perlukan di saat-saat tertentu.

YANG TIDAK TERLALU MENJADI MASALAH

Berikut ini adalah beberapa hal yang menurut saya semestinya tidak usah dijadikan unsur utama dalam memilih kamera, kecuali karena alasan tertentu :

  • jenis baterai : Hanya Pentax K100D yang memakai baterai AA 4 buah, lainnya memakai baterai Lithium
  • layar LCD : 2,5 inci, 2,7 inci, 3 inci, bagi saya tidak terlalu ada bedanya
  • jenis sensor : CMOS, CCD, NMOS, liveMOS, daripada pusing sendiri, anggaplah kesemuanya sama baiknya
  • memory card : Hanya Nikon D40 dan Pentax K100D yang memakai SD/SDHC memory card, selebihnya memakai CF card. harga memori semakin murah dewasa ini, bagi saya tidak jadi masalah apapun jenis memorinya (perkecualian untuk xD memory card yang mahal, lambat dan tidak banyak didukung kamera selain Olympus dan Fuji)

REKOMENDASI SAYA ?

Sulit untuk menentukan mana yang saya sukai, pada dasarnya rekomendasi untuk DSLR tidak semudah kamera saku. Secara personal saya suka Nikon D40 karena inilah kamera DSLR yang saya punyai saat ini, dan Nikon D40 termasuk yang noisenya paling bersih di ISO tinggi. Seandainya EOS 400D punya fitur spot metering, dan kalau saja Olympus E410 punya titik AF lebih dari 3 titik, saya akan merekomendasikan keduanya. Di atas kertas saya lebih menyukai Sony A200 yang lebih modern, dengan built-in stabilizer, continuous-shooting yang lumayan cepat,  9 titik AF, sensor 10 MP, wireless flash commander dan lensa kit yang lebih panjang. Tapi pemakai Sony A200 harus lebih kreatif dalam menentukan parameter JPEG karena default setting cenderung soft (bisa dengan merubah setting sharpness atau memakai RAW lantas di konversi ke JPEG), dan lebih cermat dalam memilih lensa selain lensa kit nantinya. Bila resolusi tidak jadi masalah, kamera yang sangat berimbang antara harga dan fitur/kinerja menurut saya adalah Pentax K100D Super. Kekurangan minor dari Pentax ini (dan resolusinya yang ‘hanya’ 6 MP) tidak jadi masalah selama pemakainya menyadari keterbatasan kamera ini.

So, dengan harga dibawah 5 juta, Pentax K100D Super (6 MP) dan Sony A200 (10 MP) rasanya bisa menjadi pilihan yang tepat untuk kamera DSLR murah namun sarat dengan fitur yang berlimpah. Namun bila anda mencari DSLR yang simpel untuk dipakai sehari-hari namun bisa memberi hasil foto yang berkualitas meski tidak terlalu sarat fitur layaknya pesaingnya, bisa pertimbangkan Nikon D40 (6 MP). Tapi bila anda punya dana diatas 5 juta, daripada membeli Canon EOS 400D atau Olympus E410, saya sarankan menabung lagi untuk selanjutnya mengambil Canon EOS 450D (atau adiknya EOS 1000D), atau Olympus E510 yang lebih modern dan sarat fitur.

 

(gaptek28.wordpress.com)